Showing posts with label Sistem Komunikasi Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Sistem Komunikasi Indonesia. Show all posts

Thursday, 25 November 2010

Content Analysis

Ical Vs Media
Kompas: Kami Sudah "Cover Both Side"
Rabu, 24 November 2010 | 17:18 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Menanggapi laporan Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie terkait pemberitaan yang dinilai bohong, Redaktur Pelaksana Harian Kompas Budiman Tanuredjo menyatakan bahwa medianya telah memberitakan pertemuan Aburizal Bakrie dengan Gayus H Tambunan di Bali secara cover both sides atau berimbang.
Budiman menilai, apa yang diberitakan harian Kompas telah lengkap dan sesuai dengan kode etik jurnalistik. "Kompas menunggu dari Dewan Pers saja. Kami memandang, secara etika jurnalistik, itu sudah cukup lengkap," kata Budiman sebelum menghadiri pertemuan di kantor Dewan Pers, Jakarta, Rabu (24/11/2010).
Budiman mengatakan, pihaknya telah menggunakan sumber informasi yang sesuai. Harian Kompas juga sudah melakukan klarifikasi kepada sumber-sumber informasi terkait. "Orang yang memberikan informasi kan ada ukuran, ada klarifikasi dari pihak-pihak bersangkutan," katanya.
"Ya pasti, itu kan ada cover both sides, ada yang ditanggapi juga. Sudah ada croscek," imbuhnya.
Seperti diberitakan, siang tadi Aburizal Bakrie melalui kuasa hukumnya, Aji Wijaya, melaporkan lima media ke Dewan Pers karena menganggap kelima media tersebut menulis berita bohong tentang pertemuan Ical dan Gayus di Bali.
Kelima media itu adalah harian Kompas, Media Indonesia (Harian Media Indonesia dan Mediaindonesia.com), SCTV (Liputan 6 dan liputan6.com), Metro TV (Metro TV dan metrotvnews.com), serta Detik.com.
Penulis: Icha Rastika | Editor: Marcus Suprihadi



Analisis

Pada artikel ini, Kompas sebagai media massa “paling berpengaruh” dan “paling netral” di Indonesia mencoba memberikan pembelaan terhadap dirinya sendiri. Dalam kasus yang melibatkan Kompas dalam posisi salah ini, Kompas mencoba untuk meluruskan bahwa apa yang telah dilakukannya sudah sesuai dengan prosedur dan etika jurnalistik.
Namun begitu, gaya bahasa yang dituliskan Kompas tetap menyiratkan bahwa mereka adalah surat kabar yang kredibel dengan tidak hanya membaik-baikkan dirinya sendiri. Dapat dilihat dari kata-kata yang dikutip dalam artikel ini, "Kompas menunggu dari Dewan Pers saja. Kami memandang, secara etika jurnalistik, itu sudah cukup lengkap," menunjukkan bahwa Kompas tetap netral dan tidak ngotot menunjukkan bahwa mereka tidak salah.
Bahasa low context yang ditunjukkan Kompas pun langsung mengena di pikiran pembaca maksud yang ingin disampaikan olehnya. Begitu juga dalam artikel lain yang berkaitan, Kompas seolah tetap ingin mengukuhkan eksistensinya sebagai media yang netral dan kredibel meskipun masalahnya terdapat di dalam kekritisan mereka.

Sunday, 14 November 2010

Pola Komunikasi Kerajaan Sriwijaya

Ilmu komunikasi sebagai ilmu murni (pure science) dan sebagai ilmu terapan (applied science). Berkomunikasi adalah hakikat kehidupan manusia dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya.
Secara ideal bobot orientasi ilmu komunikasi lebih terarah kepada sikap perilaku komunikator, karena komunikator merupakan tolok ukur berhasil tidaknya tujuan komunikasi. Komunikator harus berorientasi kepada kondisi psikologis komunikan. Kondisi psikologis ini meliputi lingkup pandangan (frame of reference), lingkup pengalaman (field of experience) dan kesemestaan alam mental (the image of the other).
Telusuran sejarah memberi gambaran bahwa sistem komunikasi pada masa kerajaan tertua di Indonesia menampakkan karakter tertutup. Arus komunikasi vertikal mengalir dari atas ke bawah yang berisi pesan-pesan komunikasi untuk membentuk sikap rakyat kerajaan mengkultuskan dan memithoskan raja. Proses komunikasi horizontal dalam masyarakat sebatas pemenuhan kebutuhan sehari-hari, kalaupun ada yang berkait dengan kehidupan pemerintahan hanya sebatas ketaatan terhadap raja dan kepatuhan melaksanakan dogma agama. (Hindu).
Pada kerajaan Sriwijaya di Sumatera sebagai profil maritim, sistem komunikasi ditata secara teratur menurut sistem maritim. Kemasan Komunikasi mengalir melalui kota-kota pelabuhan.
Sistem komunikasi kerajaan Sriwijaya menggunakan konsep keterbukaan (tradisi diplomasi) melalui jalinan komunikasi perdagangan. Diperkuat dengan pusat kegiatan agama Budha yang berlevel (tingkat) Global berada pada kerajaan ini.
Selain profil maritim terdapat juga profil agraris sebagaimana kerajaan-kerajaan yang ada di Jawa. Kerajaan Mataram sebagai salah satu profil agraris muncul dengan keteraturan birokrasinya. Sistem komunikasi tersusun rapi menurut jenjang birokrasi.

Sosok profil agraris yang lebih maju dari Mataram yaitu kerajaan Majapahit. Kerajaan ini termasuk kerajaan terbesar di Indonesia yang pada waktu itu memiliki luas hampir seluas Indonesia sekarang. Tatanan birokrasi lebih teratur dan lebih rinci. Dari susunan birokrasi, tampak bahwa sistem komunikasi kerajaan Majapahit lebih rapi dan alur komunikasi berlangsung menurut alur struktur birokrasi. Komunikasi dalam kehidupan masyarakat menampakkan sifat keterbukaan walaupun dalam batas-batas tertentu sesuai peraturan kerajaan.
Banyak konsep-konsep produk kerajaan Majapahit menjadi rujukan generasi saat ini, antara lain istilah Palapa A dan B bahkan C sebagai sistem satelit domestik yang diilhami oleh Sumpah Palapa Mahapatih Gajah Mada. Kemudian buah pikir Mpu Tantular dengan Bhineka Tunggal Ika-nya menjadi seloka lambang negara kita.
Sistem komunikasi yang lebih sempurna dari kerajaan-kerajaan sebelumnya terdapat pada sistem komunikasi kerajaan Mataram II. Dari susunan birokrasi ada sifat keterbukaan komunikasi yang menunjukkan bahwa Mataram II setelah masuk Islam muncul sebagai kerajaan yang lebih maju dari kerajaan-kerajaan sebelumnya.

Kelompok kami akan membahas kerajaan Sriwijaya.
Sriwijaya adalah kerajaan Melayu kuno di pulau Sumatra yang banyak berpengaruh di Nusantara. Bukti awal mengenai keberadaan kerajaan ini berasal dari abad ke-7; seorang pendeta Tiongkok, I-Tsing, menulis bahwa ia mengunjungi Sriwijaya tahun 671 selama 6 bulan. Prasasti pertama mengenai Sriwijaya juga berada pada abad ke-7, yaitu Prasasti Kedukan Bukit di Palembang, Sumatra, pada tahun 683. Kerajaan ini mulai jatuh sekitar tahun 1200 - 1300 karena berbagai faktor, termasuk ekspansi kerajaan Majapahit. Dalam bahasa Sansekerta, sri berarti "bercahaya" dan wijaya berarti "kemenangan".

Setelah Sriwijaya jatuh, kerajaan ini terlupakan dan sejarawan tidak mengetahui keberadaan kerajaan ini. Eksistensi Sriwijaya diketahui secara resmi tahun 1918 oleh sejarawan Perancis George Coedès dari École française d'Extrême-Orient. Sekitar tahun 1992 hingga 1993, Pierre-Yves Manguin membuktikan bahwa pusat Sriwijaya berada di Sungai Musi antara Bukit Seguntang dan Sabokingking.
Telusuran sejarah memberi gambaran bahwa sistem komunikasi pada masa kerajaan tertua di Indonesia menampakkan karakter tertutup. Arus komunikasi vertikal mengalir dari atas ke bawah yang berisi pesan-pesan komunikasi untuk membentuk sikap rakyat kerajaan mengkultuskan dan memithoskan raja. Proses komunikasi horizontal dalam masyarakat sebatas pemenuhan kebutuhan sehari-hari, kalaupun ada yang berkait dengan kehidupan pemerintahan hanya sebatas ketaatan terhadap raja dan kepatuhan melaksanakan dogma agama. (Hindu).
Pada kerajaan Sriwijaya di Sumatera sebagai profil maritim, sistem komunikasi ditata secara teratur menurut sistem maritim. Kemasan Komunikasi mengalir melalui kota-kota pelabuhan.
Sistem komunikasi kerajaan Sriwijaya menggunakan konsep keterbukaan (tradisi diplomasi) melalui jalinan komunikasi perdagangan. Diperkuat dengan pusat kegiatan agama Budha yang berlevel (tingkat) Global berada pada kerajaan ini.
Selain profil maritim terdapat juga profil agraris sebagaimana kerajaan-kerajaan yang ada di Jawa. Kerajaan Mataram sebagai salah satu profil agraris muncul dengan keteraturan birokrasinya. Sistem komunikasi tersusun rapi menurut jenjang birokrasi.
Banyak konsep-konsep produk kerajaan Majapahit menjadi rujukan generasi saat ini, antara lain istilah Palapa A dan B bahkan C sebagai sistem satelit domestik yang diilhami oleh Sumpah Palapa Mahapatih Gajah Mada. Kemudian buah pikir Mpu Tantular dengan Bhineka Tunggal Ika-nya menjadi seloka lambang negara kita.
Sistem komunikasi yang lebih sempurna dari kerajaan-kerajaan sebelumnya terdapat pada sistem komunikasi kerajaan Mataram II. Dari susunan birokrasi ada sifat keterbukaan komunikasi yang menunjukkan bahwa Mataram II setelah masuk Islam muncul sebagai kerajaan yang lebih maju dari kerajaan-kerajaan sebelumnya.
Jadi pada intinya kerajaan Sriwijaya lebih bersifat hirarki. Dimana para rakyatnya masih mendengarkan raja sebagai satu suara yang mutlak. Feedback yang diberikan itupun tidak mempunyai dampak besar dari rakyat ke kerajaan. Dan juga dogma agama Hindu yang mengharuskan mereka mendengarkan orang yang dipercayanya sebagai ‘raja’.